Pasar Induk Kramat Jati Akan Dijadikan Pasar Perkulakan

Posted on

Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur akan diubah menjadi Pasar Grosir atau Pasar Perkulakan untuk sembako (sembilan kebutuhan bahan pokok). Dengan begitu, Pemprov DKI Jakarta bisa mengendalikan harga sembako dengan lebih efektif dan dapat dengan cepat mengantisipasi jika ada kenaikan harga.

Pasar Induk Kramat Jati

“Di Pasar Induk Kramat Jati, akan kita bikin pasar perkulakan atau pasar grosir untuk sembilan kebutuhan bahan pokok. Sehingga kita untuk pengendalian harga itu bisa efektif dan bisa kita kontrol. Terutama daging beku, gula dan beras,” kata Djarot di Kantor baru PD Pasar Jaya, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Senin (22/8).

Diharapkan antara bulan Desember 2016 atau Januari 2017, pusat kulakan di Pasar Induk Kramat Jati diharapkan bisa diresmikan.

Sistem grosir dipilih agar menguntungkan para pedagang kecil yang biasa menjual barangnya di pasar tradisional. Saat ini pasar tradisional cenderung kalah saing dengan pasar modern karena harga jual barang yang ditawarkan ke peda­gang kecil sangat tinggi. Nah kenapa kita tidak bisa bersaing, ya karena belanjanya saja bukan harga pabrik atau distributor. Tapi belanjanya dari tangan ke empat atau lima, sehingga harg­anya sudah tinggi.

“Jadi akan segera dibangun dan diresmikan, insya Allah bulan Desember atau Januari untuk pasar perkulakan Pasar Induk Kramat Jati. Sehingga betul-betul pasar kita bisa jadi sarana paling efektif untuk mengendalikan harga,” jelasnya.

Pasar Induk Kramat Jati tidak hanya dijadikan proyek percontohan pasar perkulakan, juga akan dijadikan sebagai proyek percontohan pengolahan sampah pasar. Disana nanti akan dibangun pengolahan sampah organik sehingga sampah dapat tertangani dengan baik. Dan kondisi pasar tetap bersih.

“Sampah di pasar itu kan sebanyak 90 persen itu sampah organik. Kita akan olah di situ. Dengan cara seperti itu sampah di pasar jadi bersih banget. Jadi Pasar Kramat Jati akan menjadi proyek percontohan pasar perkulakan sekaligus pengolahan sampah,” terangnya.

Untuk mewujudkan itu, Djarot telah memberikan perintah kepada jajaran direksi PD Pasar Jaya untuk memperkuat garis koordinasi kepada SKPD dan UKPD terkait. Karena PD Pasar Jaya tidak bisa berjalan sendiri.

“Dia harus koordinasi dengan Satpol PP, Dinas KUMKMP DKI, Dinas Kebersihan DKI dan BPKAD DKI. Saya sudah perintahkan kita akan bikin business plannya lima tahun ke depan PD Pasar Jaya maunya apa. Nanti kita akan laporkan,” tukasnya.

Pasar Induk Kramat Jati Harganya Lebih Murah Dari Pasar Modern

Tekad Pemprov DKI Jakarta meningkatkan daya saing peda­gang pasar tradisional melalui pembangunan pusat perkulakan sembako patut diapresiasi. Namun dipertanyakan, apa benar akhir tahun ini sudah ram­pung, karena belum ada penger­jaan pembangunan gedungnya.

Direktur Utama PD Pasar Djaya Arif Nasrudin mengaku lahan seluas sekitar 3.600 me­ter persegi yang nantinya akan dibangun sebagai tempat perku­lakan telah dipasangi pagar setinggi dua meter.

“Desain sudah ada, karena kita memang benar-benar me­nyiapkan. Mudah-mudahanan pertengahan Oktober kita bisa groundbreaking, dan akhir tahun mudah-mudah selesai,” katanya.

Dikatakan Arif, pembangunan pusat perkulakan itu membutuh­kan anggaran Rp 20 miliar. Dana tersebut berasal dari pinjaman Bank DKI. Pinjaman dilakukan lantaran anggaran pembangunan yang direncanakan melalui Penyertaan Modal Pemerintah (PMP) belum bisa direalisasikan. Pasalnya, dana PMP masih butuh waktu untuk proses pencairannya.

“Kalau lewat PMP sebenarnya sudah dialokasikan, cuma ini kan kalau melihat dari ketentuan kita masih perlu review sana sini. Su­paya lebih cepat kita pakai dana sendiri dulu,” tandasnya.

Kepala Hubungan Masyarakat PD Pasar Jaya Gatra Vaganza menambahkan, pihaknya sedang mematangkan struktur mana­jemennya. Sebab, perkulakan milik DKI ini tidak di bawah Pasar Induk Kramat Jati.

Pembentukan tim khusus, lan­jutnya, bertujuan agar pengelo­laan pusat kulakan sembako bisa lebih profesional. Selain itu, supaya sistem pengawasan harga barang barangnya juga bisa lebih terkontrol.

“Saat ini sedang digodok siapa saja yang masuk ke dalam di tim khusus tersebut,” ujarnya.

Selain manajemen, para pem­asok sembako di pusat perkulakan juga sedang dimatangkan. Sebab, harga jual yang ditawarkan ke pedagang kecil harus murah.

“Harga sembako dari pemasok harus lebih murah jika diband­ingkan dengan harga sembako di pasar modern. Nanti kita akan bekerja sama dengan PD Dharma Jaya, Tjipinang Food, dan lain sebagainya,” tukasnya.